Cheap Web Hosting | Free Web Hosting | Dedicated Servers | Windows Hosting | Free Web Space | Trade Show Displays | GoDaddy Coupon Codes | FrontPage Hosting | Business Hosting
cheap web hosting
Search the Web

www.Puisi.20m.com

Dengan tidak mengurangi rasa hormat , penulis gila ini memohon untuk tidak mengadaptasi seluruh/ atau sebagian dalam bentuk apapun sebelum mendapat ijin dari penulis. My Files My Photos

Kematian seorang penyair adalah awal keabadiannya

www.duniasastra.com

Disebuah gubuk reyot , dan nyaris roboh diterpa angin- terbaring seorang lelaki sekarat, menatap cahaya suram dari sebuah lampu yang bertempur melawan kegelapan.... Ia adalah seorang penyair yang terbaring sekarat ; kelaparan ; dikota yang hidup dan kaya. Dia menghela nafas-nafas penghabisannya, sementara tiada seorangpun yang menemaninya kecuali lampu minyak , satu-satunya pendamping yang ia miliki dan lembar-lembar kertas yang diatasnya terdapat lukisan hati yang ramah. Dengan sisa-sisa tenaga yang kian menyusut, dia mengangkat tangan kearah langit dan menggerakkan pelupuk matanya yang lemah seolah penglihatannya yang kabur akan menembus atap gubuk kumuh itu. Dia berkata : "Datanglah kini wahai maut yang cantik, karena ruhku rindu padamu, karena aku begitu lelah ...bebaskanlah diriku dari masyarakatku yang terasing .... Cepatlah menyabut ruhku wahai kesunyian yang agung.... karena mereka menolak aku, dan membuang diriku karena aku tak mau menindas yang lemah sebagaimana yang mereka lakukan, karena aku berbicara dengan lidah malaikat dalam bahasa manusia." Datanglah dengan jemari kelembutanmu, dari bibir yang tak pernah merasakan ciuman seorang ibu, pun tidak pernah menyentuh pipi perempuan, pun tidak pernah merasakan bibir kekasih tersayang. Cepatlah dan peluklah daku, wahai maut kekasihku." Kemudian disamping ranjang pemuda sekarat itu berdiri bayangan seorang bidadari dengan kecantikan surgawi. Dia memeluk pemuda itu dan memejamkan matanya sehingga pemuda itu tak bisa melihat apapun selain dengan mata hatinya. Bidadari itu mencium bibirnya dengan ciuman cinta kasih, sebuah kecupan kebahagiaan surgawi yang takkan terlupakan bagi pemuda sekarat itu. Dan pada saat itu gubuk menjadi kosong kecuali lantai tanah , dan sobekan kertas yang berisi ratapan derita sang penyair. Beratus-ratus tahun kemudian , ketika penduduk kota itu tersadar akan kebodohannya , kala mereka terjaga dan matanya menyaksikan fajar pengetahuan , mereka mendirikan sebuah monumen sebagai tanda bagi sang penyair , ditaman paling indah yang ada dipusat kota . Setiap tahun mereka menyelenggarakan pesta rakyat untuk mengenang sang penyair, yang tulisan-tulisannya telah membebaskan mereka. Oh, betapa mengerikannya kebodohan!. Hartono Beny Hidayat Elaboration with KG

Sajak-sajak/syair/Puisi terbaik dari www.duniasastra.com

AKU BUKANLAH PENYAIR, AKU HANYALAH SESEORANG- YG SEDANG-MENCARI BENTUK, WUJUD ASLINYA SENDIRI

www.duniasastra.com

Dikeheningan malam aku telah berjalan , menyusuri lorong-lorong kotorku dan ruhku juga telah memasuki rumah-rumah kalian . Detak-detak jantung kalian juga berdegup didadaku , dan nafas-nafasmu menghembus pula di hidungku.

Dan aku bukanlah seorang penyair aku hanya sekedar mengucapkan rangkaian kata tentang sesuatu yang sebenarnya kalian sendiri telah tahu didasar alam pikirmu.

Diantara kalian ada yang menyebutku angkuh , hanya mementingkan kegemaranku menyepi dan mengatakan kepadaku : " Ia berbicara dengan tetumbuhan dan para satwa ,bukan dengan kita manusia . Seorang diri ia duduk dipuncak-puncak perbukitan memandang rendah pada kota dan kehidupan". Sebagian yang lain diantara kalian berbicara kepadaku meski tanpa kata-kata : " Ia orang yang aneh , orang ganjil , pencinta keluhuran yang tak teraih, untuk apa bermukim dipuncak-puncak gunung tempat elang bersarang, dan mengapa pula mencari sesuatu yang wujudnya belum pasti ?"..."Angin apa yang hendak kau tangkap dalam jala-mu . Burung ajaib manakah yang ingin kau jaring dilangit biru ?!...Kemarilah engkau bersatu dengan kami , turunlah bersama kita akan berbagi roti , dan lepaskan hausmu dengan anggur-anggurku !"

Memang aku telah mendaki "puncak-puncak perbukitan" dan sering pula aku mengembara dalam "kesunyian " hutan.tapi aku juga akan tetap dapat mengamati kalian tanpa perlu "turun" dari puncak pegunungan.

Kesunyian jiwa telah menyebabkan mereka melontarkan kata-kata itu, namun apabila kesunyian itu mendalam lagi, maka mereka akan dapat mengerti, bahwa apa yang aku cari adalah rahasia terdalam jiwa manusia ,dan yang aku buru adalah sukma agung manusia yg menjelajah kesegala penjuru semesta.

Dan Kesunyian itulah yang menuntunku melangkah menuju "lorong penderitaan" sekaligus teman keagungan spiritual.....

Aku orang yang percaya sekaligus peragu, betapa seringnya jariku menekan lukaku sendiri sekedar untuk menghayati nilai kebenaran . Dan keyakinanku berkata manusia itu tak terkurung dalam raga dan jasad yang merangkak mencari kehangatan matahari, bukan pula penggali terowongan untuk mencari perlindungan, melainkan ruh yang merdeka-jiwa yang meliputi cakrawala dunia . Jika kata-kataku memasuki samar, kalian tak perlu gusar karena asal mula segala sesuatu adalah samar , meskipun akan jelas pada akhirnya.

Sebab apakah pengetahuan itu jika bukan bayangan dan pengetahuan yang terpendam bisu. Pikiran kalian dan jalinan kata-kataku, digetarkan oleh gelombang yang satu ,terekam dan terpatri diantara hari-hari dan masa silam yang telah berlalu , sejak bumi belum mengenal dirinya sendiri dan kegelapan belum terkurung oleh pekatnya malam .

Pahamilah kata-kata orang bijak dan laksanakan dalam kehidupanmu sendiri . Hidupkanlah kata-kata itu , tetapi jangan pernah memamerkan perbuatan -pebuatan itu dengan menceritakannya, karena dia yang mengucapkan apa yang tidak dia pahami , tidak lebih baik dari seekor keledai yg mengangkat buku-buku.

Jangan pernah menyesal karena kalian 'buta' dan jangan pernah merasa kecewa karena kalian 'tuli', sebab dipagi ini fajar pemahamanmu telah merekah untuk kalian didalam mencari rahasia kehidupan . Dan kalian akan mensyukuri segala gulita- sebagaimana kalian mensyukuri terang cahaya.

Dan segala yang "tak berbentuk" selalu berusaha mencari "bentuknya", seperti berjuta-juta bintang yang menjelma menjadi matahari...

Dan kulihat.......Kehidupan itu bersifat dalam , tinggi dan jauh , hanya wawasan luas dan bebas yang dapat menyentuh kakinya , meski sebenarnya ia dekat !.

Banyak sudah orang bijak yang telah mendatangi kalian untuk mengajarkan hikmat dan pengetahuan . Dan aku datang untuk mengambil hikmat itu dan lihatlah kutemukan sesuatu yang tak ternilai didasar hati, laksana air pancuran yang melegakan jiwa.

Setiap kali aku datang ke air pancuran itu , dikala dahaga hendak membasahi kerongkongan , aku dapatkan air itu sendiri tengah kehausan -dia meminumku selagi aku meminumnya !

Hartono Beny Hidayat Elaboration with KG

Welcome !

Wahai sahabat-sahabatku... ijinkan aku tuk sedikit bercerita:

Karena ia hanya ingin menceritakan apa yang ingin ia keluarkan dan ia rasakan.Seperti halnya tangisan, keluar begitu saja walau ia berusaha sekuat mungkin untuk menahannya.

Ia hanya ingin bercerita pd kalian tentang pengalamannya akan kesunyian, kesedihan, harapan dan juga .........aku tanya kepadanya, perihal makna yang terkandung dari titik-titik ini, namun ia bersikeras tak mau menjawabnya.

Namun yang aku tahu ia bagaikan laba-laba penenun, yang menyulam imajinasinya dengan realitas kehidupan. Saat ia telah kehabisan serat benangnya yang terakhir, maka ia menenun dengan ukiran airmatanya, ketika airmatanyapun telah mengering, maka ia berusaha merajutnya kembali dengan lembaran serabut pembuluh tubuhnya.

Lalu ada dimana benang-benang itu tak pernah habis walau ia telah memakainya berjuta-juta kaki jauhnya.Ketika aku tanya padanya perihal benang ajaib itu, ia menjawab sederhana :

' Pikiran dan kehendak bebas! '

++++++++++ DIA +++++++++

www.duniasastra.com

Dia , sipujangga cinta terus menyebut nama "cinta" yang telah memenjarakan hatinya...namun teriakkannya hanya menggema dicakrawala, memantul dari satu bukit ke bukit yang lain.

Sedang "cinta" yang nun jauh disana tak bisa mendengar. Dia memanggil nama cinta ribuan kali , dan selalu saja sia-sia, tidak ada yang mendengar atau menjawab seruannya.

Ditempat yang jauh itu jiwa "cinta" selalu mengenang dia , siang terbayang malam dikenang, siang mengharap malam meratap.

Hasrat menyala-nyala dalam hati yang terbakar kerinduan, rasa cinta itu semakin mendalam ,walau kedua raga saling berjauhan.

Getar perasaan "cinta" terhubung juga dengannya, bila "cinta" semakin menderita maka si -dia juga semakin menjadi-jadi , mengembara sendirian dipadang imajinasi serta mengabaikan segala cemoohan orang sekitarnya yg menganggap cintanya pada "cinta"  hanyalah sebuah cinta sesaat yang biasa dihinggapi anak muda-yang dengan sendirinya sirna bersama sang waktu, dan mereka sering mengolok-olok , menyebut dirinya sang pemimpi...

Ia ingin mengadukan nasibnya tetapi pada siapa?!..

Tidak ada yang bisa memahami perasaannya, hanya bebatuan dan lembah yang bisa memahami kesedihan hatinya...

Karena bukit dan lembah yang setia mendengarkan lolongan dia memanggil cinta.

Bila kerinduan dia pada kekasihnya sudah tidak dapat terbendung, dadanya terasa sesak , pikirannya kalut, bagai tetesan embun jatuh kebumi airmata kesedihan dan keputusasaan mengalir deras dari pipinya yang pucat. Dia telah kehilangan akal sehatnya karena cinta, sirna pula kesadaran dirinya, jika sudah demikian syair-syair yang indah keluar dari bibirnya yang merah :

Duhai cinta...

Engkau adalah  keharuman nafas surgawi , yang membuatku tak lagi mampu untuk memejamkan mata...

Sihirmu begitu mempesona , membuat hati yang gersang ini  menciptakan kedalaman samudera yang nyaris sama dengan kedalaman jiwa...

Hanya untukmu seorang , seluruh kerinduanku , impianku ,  angan dan harapanku berlabuh , karena hanya engkaulah segala keinginan bermuara...

Wahai senandung pagi serta kicauan burung dipagi hari....

Maukah engkau menyampaikan salam rindu pada kekasihku....

Belailah rambutnya yang hitam berkilau untuk mengungkapkan dahaga cinta yang memenuhi hatiku......

Wahai semilir angin pagi yang mendamaikan dan menyejukkan jiwaku....

Sampaikan pada gadis yang memikat hati itu betapa pedih rasa hatiku jika tidak bertemu dengannya, hingga tak kuat lagi aku menanggung beban kehidupan....

Wahai semilir angin yang memporak-porandakan putik-putik bunga....

Tanyakan dirinya apakah dia masih mau berjumpa denganku?...

Apakah ia masih memikirkan diriku ?.....

Bukankah telah  kukorbankan kebahagiaanku demi dirinya?...hingga diri ini terpenjara sepi dan terbalut kegelapan didasar samudera ?! .....

Wahai semilir harum -kelopak  putik-putik bunga....

Maukah engkau membawakan keharuman rambutnya  padaku sebagai pelepas rindu?

Sampaikan salam , beserta kidung surgawi -pesanku ini untuknya :

Duhai kekasih hati ,....

Hatiku telah dikuasai oleh pesona jiwamu, kecantikanmu menusuk hatiku laksana anak panah, hingga sayap yang sudah patah ini tidak mungkin dapat terbang...

Engkau laksana dewi dalam gemilang cahaya...

Hanya untukmu seorang jiwaku rela menahan  kesedihan dan kehancuran..karena engkaulah menara kekuatan dan  airmata kebahagiaan bagi segala prahara hidupku...

Keindahan parasmu laksana ramuan ajaib yang memabukkan diriku , desah suaramu laksana mantra sihir yang tidak bisa aku hindari , ia menjadi sumber kebahagiaan yang telah memikatku untuk selalu mengenangmu...

Aku melintasi lorong waktu , merangkak dalam kegelapan , terbalut debu dan luka.... dari setiap titik darah yang menetes ini ,  ku harap dirimu membukakan pintu bagi jiwaku....

Sebuah tempat dimana kudapat berteduh dan menyandarkan tubuh serta jiwaku, hingga  kudapat merasakan sentuhan lembut jemari surgawi  yang bersemayam direlung jiwaku....

Duhai belahan jiwaku ,...

Dirimu selalu bertahta dihatiku ...siang slalu kupikirkan dan malam  menghiasi mimpi ...

Airmataku pun telah mengering karena selalu meratap dan merindukanmu...

Jeritan hatiku  bergema serta membelah kesunyian langit , memanggil namamu sebagai pengobat jiwa, penawar kalbu...

Entah mengapa badai dan prahara itu tiba-tiba datang , menghancurkan kebahagiaanku dan dirinya...

Separuh jiwaku  beserta bahtera jiwaku hilang tersapu badai  , terombang-ambing ia oleh gelombang lautan perasaan yang tak bertepi dan berdasar....

Dan demi rasa cintaku yang mendalam ...Aku rela berada dikedalaman samudera yang dingin seorang diri...

...Berteman lapar, menahan dahaga...

Wahai kekasihku, hidupku yang tidak berharga ini suatu saat akan lenyap....

Tetapi biarkan pesona kecantikanmu tetap abadi selamanya dihatiku...

Untuk Melihat Sajak lainnya silahkan kunjungi www.duniasastra.com

Negeri Seorang Penyair

www.duniasastra.com

Airmataku menitik dari kelopak jiwa , menetes deras menggenangi tanah kering berduri,

Aku dapati bangsaku tertatih menahan  lapar , dari sebuah negri yang kaya akan madu dan susu.

Aku saksikan dengan mata rahim kesedihanku, anak-anak negeri mati ditanahnya -yang penuh berkah ilahi.

Aku katakan padamu , apa yang dapat dilakukan- anak terbuang untuk bangsanya yang sekarat ?

Apa gunanya  bagi mereka  ratapan tangis seorang penyair yang tidak memiliki tempat untuk  berpijak ?

Aku dengungkan hatimu dengan suara lirih , "dimana wujud mu berada wahai nurani?!'....'sudah matikah engkau diistana kehampaanmu ?"....

Ku coba  menggetarkan semangat dari bahumu ,sekedar untuk membangunkan sukma agung- yang tertidur pulas dikedalaman jiwa setiap mata hati anak negeri...

Kini kutersadar dari keprihatinanku  yang sia-sia , karena semua takkan mengenyangkan rasa lapar bangsaku, dan airmataku takkan menghilangkan dahaga anak-anak negeri...

Aku terjaga dari pembaringanku yang getir....wahai bumi , air dan benih yang ada digenggamanku....berjanjilah padaku bahwa engkau senantiasa hidup, dan bersama-sama  tunas-tunas hari depanmu , selamanya bersemi ditanah ....tempat ari-ariku terkubur.....

Wahai kesegaran pagi yang menyejukkan, katakan kepada bangsaku, bila benih ini telah menghasilkan buah kehidupan, kuingin mereka  senantiasa  memenuhi genggamannya secara wajar... katakan juga pada bangsaku, agar saling berbagi benih , menyirami  tunas dan   menjaga kesuburan ladang-ladang  ilahi dari ketamakan ...

Aku titipkan negeri miskin  ini padamu semesta, dari negeri ku yang kaya raya....negeri seorang penyair.

 

Hartono Beny Hidayat In Elaboration with KG